Irfan Juniyanto Saleh Hanya seorang mantan karyawan yang berusaha pindah kuadran ke dunia bisnis

Aturan Kerja Berkedok Disiplin Padahal Mencari Keuntungan

aturan kerja

Sudah kita ketahui sejak awal pandemi di negeri ini, kita dihadapkan dengan banyak persoalan, banyak pihak yang dirugikan mulai dari para pelaku bisnis, pelaku usaha, para pekerja bahkan semua sektor ikut terdampak akibat pandemi.

Selain itu masih banyak para pelaku bisnis yang memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan keuntungan, fokus kali ini adalah nasib para pekerja yang bekerja di perusahaan alih daya (outsourcing).

Hubungan Kerja antara Perusahaan alih daya dengan pekerja/buruh yang dipekerjakan, didasarkan pada PKWT atau PKWTT,” bunyi Pasal 18 ayat (1) PP Nomor 35 Tahun 2021.

Tapi bagaimana nasib para pekerja outsourcing yang tidak membuat atau menyetujui Perjanjian Kerja waktu tidak tertentu, perusahaan alih daya bisa dengan mudah membuat peraturan  tidak masuk akal yang tujuannya jelas meraup keuntungan dengan dalih “Mendisiplinkan”.

Contohnya berupa perusahaan outsourcing yang memberlakukan peraturan secara sepihak, perusahaan merubah sistem absen dari manual menjadi absen dalam aplikasi dengan aturan :

  • Telat absen 1- 10 menit 30.000
  • Telat absen 11 – 30 menit 50.000
  • Telat diatas 31 menit 100.000
  • Tidak absen keluar – pulang 150.000

Dengan adanya aplikasi ini sama sekali tidak memudahkan para pekerja tetapi justru merumitkan keadaan.

Pada hakikatnya manusia memang tidak luput dari lupa, lalu bagaimana nasib Karyawan yang telat atau bahkan lupa absen seharian? lupa absen datang dan pulang satu hari, dua hari bahkan beberapa kali dalam satu bulan.

Coba di hitung saja berapa jumlah potongan yang di tanggung karyawan? ditegaskan kembali telat absen bukan telat masuk. Jadi karyawan masuk kerja tepat waktu tapi lupa absen.

Berdasarkan data di salah satu perusahaan outsourcing  bulan september 2021 ada 300 lebih karyawan yang Lupa atau telat absen bisa di hitung  berapa jumlah uang yang di dapatkan perusahaan dari hasil “potongan telat absen”?

Sangat disayangkan jika perusahaan hanya fokus terhadap kesalahan tetapi tidak diimbangi dengan Reward jika para pekerja berkerja dengan baik.

Ada 8 dari 10 pekerja sangat merasa keberatan dengan peraturan yang di terapkan, hal ini sangat bertolak belakangan dengan tanggung jawab sosial perusahaan, bagaimana perusahaan membantu masalah sosail dan lingkungan sekitar, kesejahteraan para pekerja saja tidak di utamakan,

Dikutip dari Smartpresence Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) adalah konsep manajemen perusahaan yang mengintegrasikan masalah sosial dan lingkungan dalam kegiatan bisnis mereka, serta interaksi dengan para pemangku kepentingan.

Secara sederhana, CSR atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan adalah cara perusahaan untuk menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi (mencari keuntungan yang sebesar-besarnya) dengan kepentingan lingkungan dan sosial. Sekaligus memenuhi harapan para pemegang saham dan para pemangku kepentingan yang terkait.

Konsep CSR yang diterapkan dengan baik dan benar dapat membawa banyak keuntungan kompetitif.

Keuntungan itu antara lain peningkatan akses modal, peningkatan penjualan yang akhirnya meningkatkan keuntungan, penghematan biaya operasional perusahaan, peningkatan produktivitas dan kualitas, peningkatan citra brand yang positif, pengambilan keputusan yang baik dan proses manajemen risiko.

Dalam pengertian yang demikian, maka penting untuk membedakan CSR yang disalurkan dalam bentuk konsep manajemen bisnis srategis, sponsorship, amal, dan filantropi.

Masing-masing jenis itu bisa mengurangi dampak negatif yang bisa timbul di lingkungan usaha dan lingkungan sosial sekitarnya. Dengan demikian organisasi dapat berkelanjutan secara finansial.

Bidang garap yang biasanya di fasilitasi oleh CSR meliputi, eko-efisiensi, pengelolaan lingkungan, sumber yang bertanggungjawab, standar ketenagakerjaan, keterlibatan para pemangku kepentingan, hubungan baik antara karyawan dan masyarakat, keseimbangan gender, kesetaraan sosial, tindakan anti-korupsi, hak asasi manusia, dan tata kelola yang baik.

So, Perlu di perhatikan lagi dalam membuat peraturan, pastikan setiap peraturan yang di buat bermuatan win-win solution, sehingga karyawan bekerja lebih produktif dan perusahaan tetap profit tanpa perlu mengorbankan income karyawan.

Penulis : Liliana Indah Permata Sari (Mahasiswi Universitas Pamulang)

Irfan Juniyanto Saleh Hanya seorang mantan karyawan yang berusaha pindah kuadran ke dunia bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *